Bengkalis,Riauline.com - Sebelum matahari meninggi, langkah Septi Afikar, yang akrab disapa Asep, sudah lebih dulu menyusuri lumpur pesisir Desa Sepahat, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis. Dengan kaki palsu yang menempel di tubuhnya, pria berusia 54 tahun itu berjalan perlahan memeriksa satu per satu bibit mangrove yang tumbuh di sepanjang garis pantai. Tak ada keluhan yang keluar dari bibirnya, hanya tekad untuk memastikan pohon-pohon itu tetap hidup.
Sepuluh tahun lalu, hidup Asep berubah dalam sekejap. Sebuah kecelakaan tabrak lari merenggut kaki kirinya dan memaksanya meninggalkan kehidupan yang selama ini dijalani. Masa-masa sulit sempat menghampirinya. Ia harus belajar menerima kenyataan, berdamai dengan keterbatasan, sekaligus mencari alasan untuk tetap bangkit.
Namun dari peristiwa itulah, Asep menemukan makna baru dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa manusia selalu diberi kesempatan untuk memulai kembali, meski dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kesempatan itu datang ketika ia mulai mengenal pentingnya hutan mangrove bagi kehidupan masyarakat pesisir.
Empat tahun terakhir, hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk merawat dan menjaga ribuan pohon mangrove di pesisir Desa Sepahat. Baginya, setiap bibit yang berhasil tumbuh bukan sekadar tanaman, melainkan harapan agar pantai tetap kokoh menghadapi abrasi dan kehidupan laut terus terjaga.
Pemandangan Asep berjalan di atas lumpur dengan kaki palsunya sudah menjadi hal biasa bagi warga sekitar. Meski medan yang dilalui cukup berat, semangatnya tak pernah surut. Ia tetap menyusuri kawasan pesisir, membersihkan sampah yang tersangkut, mengganti bibit yang mati, hingga memastikan mangrove tumbuh dengan baik.
Ironisnya, Asep mengaku pernah menjadi bagian dari mereka yang menebang pohon tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan. Saat itu, pohon dianggap hanya memiliki nilai ekonomi. Namun pengalaman hidup mengubah cara pandangnya terhadap alam.
Kini ia percaya bahwa alam bukan hanya tempat manusia mengambil manfaat, melainkan juga warisan yang harus dijaga. Kesadaran itu tumbuh perlahan, hingga akhirnya ia memutuskan mendedikasikan dirinya sebagai penjaga ekosistem mangrove.
"Mngrove memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar pepohonan di tepi pantai. Akar-akar yang menjulang menjadi benteng alami penahan abrasi, tempat berkembang biaknya berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting, sekaligus penyerap karbon yang membantu menjaga keseimbangan lingkungan," ujarnya, Jumat (31/8/26).
Di sela aktivitasnya, Asep sering mengajak anak-anak dan masyarakat untuk lebih mengenal pentingnya menjaga mangrove. Ia berharap generasi muda tidak mengulangi kesalahan yang pernah ia lakukan, yakni memandang alam hanya sebagai sumber keuntungan semata.
Sebuah kalimat sederhana selalu ia ulang ketika berbicara tentang lingkungan. “Alam sudah begitu banyak berjasa kepada manusia. Mana ucapan terima kasihnya?” Kalimat itu menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk rasa syukur atas kehidupan yang diberikan.
Perjalanan Asep membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk memberi manfaat bagi banyak orang. Justru dengan satu kaki, ia mampu menginspirasi banyak orang agar lebih peduli terhadap lingkungan. Setiap langkahnya di atas lumpur menjadi simbol keteguhan hati yang tak mudah tergoyahkan.
Di pesisir Desa Sepahat, ribuan mangrove terus tumbuh menghijau. Di balik rindangnya pepohonan itu, tersimpan kisah seorang pria yang kehilangan satu kaki, tetapi menemukan tujuan hidup yang jauh lebih besar. Kisah Asep menjadi bukti bahwa harapan selalu bisa tumbuh, sebagaimana mangrove yang tetap tegak menghadapi ombak dan waktu.
Komentar Anda :