Home | Nasional | Internasional | Daerah | Politik | Hukrim | Ekonomi | Sport | SerbaSerbi | Tekno | Lifestyle
 
Jambu Busuk dan Kacang Tojin, Ketika Harapan MBG di Sungai Pakning Dipertanyakan
Rabu, 04-03-2026 - 16:46:12 WIB | Alfis
Salah satu menu dari SPPG Sungai Pakning yang dikeluhkan penerima MBG, bahkan. Buah jambu ditemukan busuk saat dibelah.
TERKAIT:
   
 

Bengkalis,Riauline.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini digadang-gadang sebagai salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto, kini menuai sorotan di daerah. Di Kota Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, sejumlah orang tua murid menyampaikan kekecewaan terhadap menu yang diterima anak-anak mereka.


Program yang dirancang untuk meningkatkan asupan gizi peserta didik itu sejatinya membawa harapan besar, terutama bagi keluarga yang menggantungkan perhatian pada pemenuhan nutrisi anak di sekolah. Di atas kertas, MBG hadir sebagai wujud kepedulian negara terhadap tumbuh kembang generasi muda.


Namun di lapangan, harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sungai Pakning, menu yang dibagikan kepada siswa dinilai jauh dari standar yang dibayangkan para orang tua.


Dalam satu paket makanan, siswa hanya menerima tiga jenis menu: satu bungkus kecil kacang tojin, satu bungkus sambal bilis bercampur kacang, dan satu buah jambu kristal. Tak ada telur, tak ada susu, dan tak terlihat sumber protein hewani lain yang lazim diasosiasikan dengan makanan bergizi seimbang.


Foto-foto menu tersebut dengan cepat beredar di berbagai grup WhatsApp di Kecamatan Bukit Batu. Percakapan antarorang tua pun menghangat, mempertanyakan kesesuaian menu dengan pedoman gizi yang ditetapkan pemerintah.


Padahal, sesuai ketentuan dari Badan Gizi Nasional, menu MBG seharusnya memenuhi unsur gizi seimbang: karbohidrat, protein, vitamin, serta tambahan susu dan telur untuk menunjang kebutuhan nutrisi anak sekolah. Perbedaan antara pedoman dan realisasi inilah yang memicu tanda tanya besar.


“Kami tidak menolak program ini,” ujar Santi, salah seorang warga Sungai Pakning, Rabu (4/3/26).. Nada suaranya terdengar kecewa saat menceritakan isi paket makanan yang diterima anaknya. Ia menegaskan, yang dipersoalkan bukanlah programnya, melainkan kualitas dan kelayakan menu yang disajikan.


Kekecewaan itu memuncak ketika buah jambu yang diterima anaknya ternyata busuk di bagian dalam. Dari luar tampak baik-baik saja, tetapi ketika dibelah, bagian dalamnya sudah tidak layak konsumsi. Buah yang seharusnya menjadi sumber vitamin justru memunculkan kekhawatiran.


Keluhan serupa disebut datang dari orang tua murid lainnya. Mereka khawatir, jika kondisi ini terus berlanjut, tujuan utama program untuk meningkatkan kesehatan dan konsentrasi belajar siswa tidak akan tercapai. Bahkan, ada kekhawatiran anak-anak justru berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat makanan yang tidak segar.


Di sisi lain, Kepala SPPG Sungai Pakning, Ira Purnama Sari, membenarkan bahwa menu tersebut berasal dari dapurnya. Ia mempersilakan orang tua siswa yang merasa dirugikan untuk datang langsung ke SPPG agar buah yang busuk dapat diganti.


“Boleh ke sini, biar kami ganti buahnya, Pak. Kalau busuknya di dalam memang kurang terlihat. Kalau di luar sudah kami sortir,” ujarnya. Ia juga menyebut belum ada konfirmasi langsung sebelumnya terkait buah busuk tersebut, dan menegaskan bahwa setiap laporan biasanya langsung ditindaklanjuti dengan penggantian.


Terkait ketiadaan susu, Ira menjelaskan bahwa pemberian susu dijadwalkan pada hari Jumat dan Sabtu. "Saat ini pasokan susu sedang langka sehingga distribusinya tidak dilakukan setiap hari,' jelasnya lagi 


Ia juga merinci komposisi menu yang disiapkan. Untuk porsi besar, terdiri dari orek tempe senilai Rp3.500, jambu kristal Rp4.500, dan kacang tojin Rp2.000. Sementara porsi kecil hanya berisi orek tempe dan jambu kristal dengan nilai yang sama untuk masing-masing item.


Kasus di Sungai Pakning menjadi pengingat bahwa implementasi program di lapangan memegang peranan kunci. Program sebesar apa pun akan dinilai dari apa yang benar-benar diterima masyarakat. Di tangan para pelaksana, harapan tentang “makan bergizi gratis” diuji apakah benar menjadi sumber gizi yang layak, atau sekadar menu sederhana yang belum sepenuhnya memenuhi janji.


 




 
Berita Lainnya :
  • Jambu Busuk dan Kacang Tojin, Ketika Harapan MBG di Sungai Pakning Dipertanyakan
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Indeks Berita  
    01 Dewan Pers Buka Babak Baru HPN: Saatnya Hari Pers Nasional Menjadi Milik Bersama
    02 Ratusan iPhone Berakhir di Mesin Penghancur, Bea Cukai Bengkalis Musnahkan Barang Ilegal Senilai Rp5,9 Miliar
    03 75 Kepala Desa Dikukuhkan, Kasmarni Titip Amanah untuk Bengkalis yang Lebih Maju
    04 75 Kades di Bengkalis Kembali Dilantik, Masa Jabatan Diperpanjang hingga 2028
    05 Semangat Kemerdekaan, Bea Cukai Bengkalis Berbagi untuk Warga Sungai Pakning
    06 JMSI Riau Siapkan UKW Semua Tingkatan, Digelar Oktober 2026
    07 Open Turnamen Camat Bukit Batu III 2026 Tak Sekadar Adu Gengsi, Dongkrak Ekonomi Masyarakat
    08 Ribuan Warga Meriahkan Jalan Sehat Bermasa Bukit Batu, Doorprize Bertabur Hadiah
    09 Gebyar Pajak Sungai Selari Semarak, Warga Taat PBB Berkesempatan Bawa Pulang Sepeda
    10 Jalan Santai dan Sepakbola Bermasa, Bukit Batu Semarakkan HUT RI ke-81
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © 2019 - Riauline.com