BENGKALIS,Riauline.com - Kerusakan salah satu armada penyeberangan kembali memicu antrean panjang di Pelabuhan Roro Bengkalis–Sungai Pakning. Sejak kapal tak bisa beroperasi normal, ratusan kendaraan harus mengantre berjam-jam demi bisa menyeberang. Pelabuhan yang biasanya menjadi simpul pergerakan kini berubah menjadi barisan kendaraan yang nyaris tak bergerak.
Sejak subuh, deretan mobil pribadi, sepeda motor, hingga truk pengangkut logistik memenuhi area pelabuhan. Kendaraan tersusun rapat, seolah membentuk tembok besi yang memanjang hingga ke luar kawasan pelabuhan.
Klakson sesekali terdengar memecah kesunyian. Bunyi itu bukan pertanda ingin mendahului, melainkan luapan kegelisahan para pengemudi yang terjebak dalam ketidakpastian waktu keberangkatan.
Panas matahari yang kian meninggi menambah beban para penumpang. Banyak pengendara memilih turun dari kendaraan, berteduh di bawah bangunan seadanya atau duduk di tepi dermaga sambil menunggu kabar keberangkatan.
Wajah-wajah lelah terlihat jelas. Kesabaran menjadi satu-satunya pilihan bagi para pengguna jasa penyeberangan yang tak memiliki alternatif jalur lain untuk mencapai tujuan.
Bagi masyarakat Bengkalis dan Sungai Pakning, kapal Roro bukan sekadar sarana transportasi. Ia adalah urat nadi penghubung ekonomi, sosial, dan aktivitas harian masyarakat di kedua wilayah.
Saat satu armada rusak, dampaknya langsung terasa. Aktivitas perdagangan tersendat, jadwal perjalanan berantakan, dan waktu produktif masyarakat terbuang di tengah antrean panjang.
Seorang pengemudi truk sembako mengaku khawatir muatannya terlambat sampai ke tujuan. Keterlambatan beberapa jam bisa berdampak panjang pada rantai distribusi. “Kalau sering begini, kami yang di lapangan paling merasakan,” katanya sambil menatap antrean di depannya..
Kondisi serupa juga terjadi di sisi Pelabuhan Sungai Pakning. Kendaraan mengular hingga keluar area pelabuhan, memaksa petugas bekerja ekstra mengatur arus lalu lintas agar kemacetan tidak semakin parah.
Namun, keterbatasan armada membuat upaya pengaturan belum mampu mengurai antrean sepenuhnya. Satu kapal yang beroperasi harus menanggung beban ratusan kendaraan dari dua arah penyeberangan.
Kerusakan armada penyeberangan seolah menjadi persoalan yang berulang. Setiap gangguan teknis selalu berujung pada penumpukan kendaraan dan keluhan masyarakat, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang kesiapan armada dan sistem perawatan yang ada.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bengkalis, Ardiansyah, mengatakan kerusakan pada mesin KMP Mutiara Pertiwi II diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari untuk perbaikan karena masih menunggu alat dari Jakarta. Saat ini, pelayanan hanya dilayani satu kapal.
Ardiansyah yang baru menjabat sebagai Kadishub menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pengguna jasa. Ia berjanji akan terus melakukan pembenahan pelayanan dan mendorong agar KMP Bahari Nusantara yang telah selesai docking segera melengkapi administrasi, sehingga bisa kembali beroperasi dan membantu pelayanan di lintasan Bengkalis–Sungai Pakning.
Antrean mengular di Pelabuhan Roro Bengkalis–Sungai Pakning menjadi cermin rapuhnya layanan saat armada terganggu. Lebih dari sekadar kisah kemacetan, peristiwa ini adalah pengingat bahwa transportasi penyeberangan merupakan denyut nadi kehidupan masyarakat pesisir yang tak boleh terlalu lama terhenti.
Komentar Anda :