Home | Nasional | Internasional | Daerah | Politik | Hukrim | Ekonomi | Sport | SerbaSerbi | Tekno | Lifestyle
 
Tiga Bulan Berturut Kasus Bunuh Diri Terjadi di Wonosari, Psikolog RSUD Bengkalis Ingatkan Pentingnya Kepedulian Mental
Rabu, 03-12-2025 - 14:20:42 WIB | Alfis
Ilustrasi
TERKAIT:
   
 

BENGKALIS,Riauline.com — Warga Desa Wonosari, Kecamatan Bengkalis, kembali dikejutkan oleh kasus bunuh diri yang terjadi pada Rabu (3/12/2025). Seorang pria yang berstatus honorer di Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bengkalis ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di area perkebunan karet tak jauh dari rumahnya. Kejadian ini menambah panjang daftar insiden serupa dalam tiga bulan terakhir.


Penemuan korban sontak mengundang perhatian masyarakat, mengingat ini bukan kejadian pertama yang menimpa warga desa tersebut. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran baru terkait meningkatnya tekanan psikologis yang dialami sebagian masyarakat. Aparat kepolisian telah melakukan pemeriksaan awal, sementara warga berharap ada penanganan lebih serius terhadap isu kesehatan mental di lingkungan mereka.


Menanggapi maraknya kasus tersebut, Psikolog Klinis RSUD Bengkalis, Anugrah Mirabbi, S. Psi., M. Psi., Psikolog, memberikan pandangannya mengenai faktor-faktor pemicu tindakan bunuh diri. Ia menegaskan bahwa kasus seperti ini tidak pernah disebabkan oleh satu faktor tunggal. “Banyak faktor risiko yang berkontribusi, mulai dari tekanan hidup, masalah ekonomi, hingga persoalan sosial yang memunculkan rasa putus asa,” jelasnya.


Menurut Anugrah, kondisi kesehatan mental seperti depresi atau gangguan psikologis lainnya sering kali menjadi pemicu yang tidak disadari. “Ada kalanya seseorang memang sudah memiliki gangguan mental tertentu, misalnya depresi, yang membuat risiko bunuh diri meningkat,” tambahnya. Ia menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal gangguan mental sebelum terlambat.


Selain faktor internal, dukungan sosial yang minim juga dapat memperburuk kondisi seseorang. Anugrah menyebutkan bahwa ketidakhadiran dukungan dari keluarga atau hubungan yang kurang harmonis kerap membuat seseorang merasa sendirian menghadapi tekanan hidup. “Kurangnya dukungan sosial menjadi faktor penting yang sering luput dari perhatian,” katanya.


Ia juga mengungkap bahwa tekanan mental masyarakat saat ini kerap hadir tanpa disadari. Rasa takut, kecemasan, kehilangan minat, hingga trauma akibat kekerasan atau pengalaman buruk dapat menggerus ketahanan mental seseorang. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berubah menjadi depresi yang memicu keinginan mengakhiri hidup.


Melihat tren yang mengkhawatirkan ini, Anugrah menyampaikan beberapa pesan penting kepada masyarakat. Ia menekankan perlunya edukasi tentang kesehatan mental agar masyarakat tidak lagi memandang persoalan psikologis sebagai kelemahan atau kekurangan iman. “Kesadaran masyarakat harus ditingkatkan, dan hentikan stigma seperti menghakimi korban,” tegasnya.


Selain edukasi, ia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku orang-orang di sekitar. Sikap empati, menurutnya, dapat menjadi penopang mental yang sangat berarti bagi mereka yang sedang berjuang secara emosional. “Perhatikan perubahan tingkah laku anggota keluarga atau tetangga. Empati sangat diperlukan,” ujarnya.


Ia juga menyoroti pentingnya akses layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau. Menurut Anugrah, fasilitas kesehatan perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkonsultasi, baik secara langsung maupun melalui layanan pendampingan. “Masyarakat harus diberi kemudahan untuk mendapatkan layanan kesehatan mental,” katanya.


Di sisi lain, Anugrah mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan video atau foto korban di media sosial. Ia menilai penyebaran konten seperti itu tidak hanya tidak etis, tetapi juga berpotensi memberi dampak buruk bagi keluarga dan masyarakat. “Hentikan penyebaran gambar korban. Itu tidak membantu, justru memperburuk keadaan,” pesannya.


Peristiwa yang terus berulang di Wonosari ini diharapkan menjadi alarm bagi semua pihak keluarga, masyarakat, dan pemerintah untuk lebih peduli terhadap kondisi mental sesama. Tindakan pencegahan, kepedulian, serta deteksi dini dianggap sebagai langkah penting untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali.


Kasus bunuh diri sebelumnya terjadi padaimghi (7/9/2) dengan penemuan mayat tergantung di pohon karet tanpa identitas di Jalan Perjuangan Gang Suryah Desa Wonosari, Kecamatan Bengkalis


Korban ternyata Febrian berjenis kelamin laki-laki warga setempat. Terungkapnya indentitas korban berawal dari pengakuan ayah korban yang mengatakan anaknya tidak memberi kabar sejak satu pekan lalu ke rumahnya.


 


 




 
Berita Lainnya :
  • Tiga Bulan Berturut Kasus Bunuh Diri Terjadi di Wonosari, Psikolog RSUD Bengkalis Ingatkan Pentingnya Kepedulian Mental
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Indeks Berita  
    01 Dari Helm hingga Kesadaran Lingkungan, Pertamina Sungai Pakning Ajak Warga Bangun Budaya Selamat dan Bersih
    02 Detik-Detik Lantai Dua Tangsi Belanda Runtuh, Studi Tur Berubah Jadi Ujian Keselamatan
    03 Menuju HPN 2026, JMSI Bengkalis Perkuat Peran dan Kolaborasi Media Siber
    04 Dari Sungai Pakning ke Tapanuli Tengah, Uluran Tangan untuk Bangkit Bersama
    05 LAMR Bukit Batu Tegaskan Dukungan kepada Polri di Bawah Kepemimpinan Presiden, Jaga Keamanan Berlandaskan Adat dan Kebersamaan
    06 Puntung Rokok di Roti MBG, Kepercayaan Wali Murid Kembali Tercederai
    07 Pelabuhan Sungai Selari Berbenah, Harapan Baru e-Ticketing di Tengah Antrean yang Selama Ini Mengular
    08 Di Tengah Keraguan, Desa Pangkalan Jambi Membuktikan Integritas dan Jadi Terbaik Anti Korupsi se-Riau
    09 Spiderman Antar Makan Bergizi, Pagi Ceria Murid SD di Bengkalis
    10 Gelombang Pagi di Selat Bengkalis: KLM Ima Setia Tenggelam, Semua Kru Selamat
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © 2019 - Riauline.com