Home | Nasional | Internasional | Daerah | Politik | Hukrim | Ekonomi | Sport | SerbaSerbi | Tekno | Lifestyle
 
Algo Sapiens, Ketika Algoritma Perlahan Menggeser Homo Sapiens
Rabu, 30-09-2026 - 13:26:16 WIB | Alfis
TERKAIT:
   
 

Jakarta,Riauline.com— Manusia menciptakan mesin pintar untuk membantu kehidupannya. Mesin dirancang agar pekerjaan menjadi lebih ringan, keputusan lebih cepat, informasi lebih mudah diperoleh, dan hidup terasa semakin nyaman.Namun, di balik kemudahan itu muncul sebuah paradoks besar dalam budaya digital. Mesin yang semula diciptakan untuk membantu manusia perlahan justru berbalik memengaruhi cara manusia berpikir, memilih, bahkan berperilaku.


Manusia menciptakan algoritma—yang namanya diambil dari ilmuwan Muslim, Al-Khawarizmi—untuk membantu menganalisis persoalan dan mengambil keputusan. Tetapi dalam perkembangannya, berbagai keputusan itu justru semakin banyak diserahkan kembali kepada algoritma.
Algoritma memantau, membaca kebiasaan, menawarkan rekomendasi, sekaligus menentukan apa yang muncul di hadapan kita. Manusia menciptakan kecerdasan buatan untuk membantu kinerja otak dan pikiran, tetapi perlahan kecerdasan buatan itu pula yang menjadi sandaran dalam menjalani kehidupan.


Di titik inilah muncul sebuah figur baru yang disebut algo sapiens, yang secara perlahan menggeser posisi homo sapiens.


Algo sapiens bukan manusia yang berubah menjadi robot. Ia tetap manusia dengan tubuh biologis, emosi, keinginan, agama, keluarga dan kehidupan sosial. Yang berubah adalah metode dan kebiasaan berpikirnya.
Semakin banyak keputusan dalam hidupnya dibentuk oleh sistem algoritmik: apa yang dibaca, apa yang ditonton, barang apa yang dibeli, berita apa yang dipercaya, bahkan apa yang dianggap penting.


Yang membuatnya lebih rumit, manusia sering tidak merasa sedang dikendalikan. Tidak ada polisi yang berdiri di depan kita. Tidak ada suara keras yang memerintahkan, “Lakukan ini!”.


Kekuasaan algoritmik bekerja jauh lebih halus. Ia seolah berkata, “Saya tahu apa yang Anda sukai dan saya punya saran tentang apa yang sebaiknya Anda lakukan.”


Pilihan tetap berada di tangan manusia. Tetapi lingkungan pilihan itu telah lebih dahulu disusun oleh sistem.
Selama ribuan tahun, manusia membangun peradaban berdasarkan kemampuan berpikir dan memilih. Kebebasan bukan berarti manusia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, melainkan memiliki ruang untuk menentukan pilihannya sendiri.


Teknologi digital kemudian memperkenalkan bentuk kekuasaan baru. Kekuasaan tidak lagi selalu bekerja melalui perintah, larangan atau hukuman. Ia dapat bekerja melalui rekomendasi, personalisasi dan kemudahan.


Gagasan Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism (2018) menjadi penting dalam membaca perubahan tersebut. Zuboff menjelaskan bagaimana pengalaman manusia dapat diekstraksi menjadi data perilaku, kemudian diproses menjadi prediksi tentang apa yang kemungkinan dilakukan seseorang sekarang, sebentar lagi, bahkan di masa depan.Data itu kemudian memiliki nilai ekonomi dalam apa yang disebut Zuboff sebagai behavioral futures markets.


Kita menghasilkan data hampir setiap saat. Ketika mencari sesuatu di mesin pencari, menggunakan media sosial, membawa telepon pintar, berbelanja daring, menonton video, berbicara dengan perangkat digital, bahkan ketika berhenti beberapa detik lebih lama pada sebuah gambar, jejak perilaku kita dapat menjadi bahan untuk membaca pola.
Aktivitas sehari-hari berubah menjadi tambang data.


Semakin banyak data yang tersedia, semakin banyak pula pola perilaku yang dapat dibaca oleh sistem.
Pada tahap awal, algoritma membaca apa yang kita sukai. Berikutnya, algoritma memprediksi apa yang mungkin kita lakukan. Pada tahap lebih jauh, sistem dapat memengaruhi lingkungan pilihan sehingga perilaku manusia menjadi semakin mudah diprediksi.


Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius. Perubahan itu dapat diringkas dalam sebuah rangkaian: pengawasan, prediksi, intervensi, kemudian modifikasi perilaku.
Persoalannya bukan lagi sekadar komputer atau teknologi. Yang dipertaruhkan adalah manusia sebagai subjek yang memiliki kehendak bebas.


Ancaman terhadap Pikiran


Franklin Foer dalam World Without Mind (2017) membawa persoalan tersebut ke wilayah yang lebih dalam.Kekhawatirannya bukan hanya mengenai hilangnya privasi, tetapi juga tergerusnya otonomi pikiran manusia.
Algoritma dapat memengaruhi cara manusia memperoleh informasi. Sistem rekomendasi dapat mempersempit pengalaman informasi, mendorong konformitas, sekaligus mengurangi ruang bagi kontemplasi dan pikiran yang benar-benar mandiri.


Seseorang mungkin merasa bebas memilih tempat makan, membeli barang, menonton film atau membaca berita. Tetapi pertanyaan berikutnya adalah: dari mana pilihan itu berasal?
Ketika seseorang membuka internet dengan niat mencari informasi, ia memang tetap melakukan pencarian. Namun, informasi yang muncul telah disusun melalui sistem algoritmik.


Ketika memilih video, sistem telah mempelajari kebiasaan sebelumnya. Ketika menemukan sebuah gagasan yang terasa baru, gagasan itu bisa saja muncul karena sistem telah membaca ribuan jejak perilaku sebelumnya.
Manusia tidak kehilangan kemampuan untuk memilih. Yang mungkin hilang adalah kesadaran mengenai siapa yang membentuk lanskap pilihan tersebut.


Penjara Tanpa Jeruji


Di sinilah algo sapiens memperlihatkan bentuk kekuasaan baru.
Penjara klasik memiliki tembok. Ada pintu besi, penjaga dan batas yang jelas. Kekuasaan algoritmik tidak membutuhkan semua itu.
Ia cukup mengatur lingkungan pilihan.
Manusia masih dapat membaca, tetapi bacaan yang muncul pertama telah disusun. Manusia masih dapat menonton, tetapi tontonan berikutnya telah direkomendasikan. Manusia masih dapat berbelanja, tetapi barang yang muncul di layar telah dipilihkan berdasarkan rekam jejak perilaku.
Kita merasa bebas karena pintu tetap terbuka.Padahal, tanpa disadari, pilihan-pilihan yang berada di balik pintu telah lebih dahulu disusun.


Masyarakat yang Cemas


Kemajuan teknologi juga tidak otomatis menghapus kecemasan manusia.
Perasaan senang, kecewa, takut, jatuh cinta, bahagia, kehilangan dan kesepian tetap menjadi bagian dari pengalaman manusia yang tidak serta-merta dapat digantikan oleh mesin secanggih apa pun.


Dalam pembacaan Han Byung-chul mengenai masyarakat modern, manusia hidup dalam kecemasan: takut gagal, takut tertinggal, takut tersingkir, takut kehilangan masa depan dan takut kehilangan kendali atas kehidupannya sendiri.


Jika gagasan Han ditempatkan berdampingan dengan pemikiran Zuboff dan Foer, muncul sebuah rangkaian persoalan yang saling berkaitan.
Zuboff berbicara tentang manusia yang semakin banyak diawasi. Foer mengingatkan ancaman terhadap otonomi pikiran. Han Byung-chul membaca kondisi manusia modern yang semakin cemas dan kesepian.
Ketiganya bermuara pada satu pertanyaan besar: apa yang terjadi ketika manusia semakin kehilangan kemampuan untuk mengendalikan hidupnya sendiri?


Teknologi memang membuat informasi semakin mudah diperoleh. Tetapi pada saat yang sama, manusia semakin sulit membedakan informasi yang benar-benar dicari dengan informasi yang sengaja hadir untuk membanjiri ruang pikirannya.


Kemudahan kemudian berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi ketergantungan.Pada titik tertentu, ketergantungan itu dapat menggerus kapasitas manusia sendiri.Daya ingat tidak lagi dilatih karena semuanya dapat disimpan mesin. Daya analisis berisiko menumpul karena jawaban dapat diperoleh secara instan. Bahkan pengalaman berharga dari kesalahan bisa berkurang karena manusia terbiasa menyerahkan keputusan kepada sistem yang dianggap lebih cepat dan lebih akurat.Padahal, manusia menjadi manusia bukan karena selalu benar.


Manusia menjadi manusia karena mampu bertanya, pernah salah, lupa, mencari jawaban, meragukan sesuatu, merenung dan kemudian bertanggung jawab atas pilihannya.Ketika proses berpikir dan mencari jawaban semakin banyak didelegasikan kepada mesin cerdas, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa yang sebenarnya menjadi subjek dan siapa yang bertanggung jawab secara moral atas keputusan tersebut?
Kecerdasan buatan mungkin memiliki intelligence yang semakin tinggi. Tetapi kecerdasan tidak identik dengan kebijaksanaan.


Algoritma bekerja dengan membaca jejak masa lalu, menemukan pola, kemudian menggunakannya untuk memprediksi masa depan. Manusia memiliki kemampuan yang berbeda: memutus pola.
Manusia dapat berubah. Manusia dapat menyesal. Manusia mengenal pertobatan. Manusia dapat meninggalkan kebiasaan lama dan memilih kehidupan baru.
Karena itu, persoalan terbesar era algoritma mungkin bukan ketika mesin menjadi semakin pintar. Persoalannya justru ketika manusia menjadi semakin malas berpikir.


Jika manusia kehilangan kemampuan untuk merenung, meragukan, membayangkan, berempati, berharap dan memilih secara sadar, maka yang hilang bukan sekadar privasi.
Yang perlahan dipertaruhkan adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar: esensi manusia itu sendiri.


Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers


 




 
Berita Lainnya :
  • Algo Sapiens, Ketika Algoritma Perlahan Menggeser Homo Sapiens
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Indeks Berita  
    01 Gebyar Pajak di Bukit Batu, Dari Setoran Warga Kembali untuk Pembangunan
    02 Teguh Santosa : Wartawan Dituntut Tetap Waras
    03 Algo Sapiens, Ketika Algoritma Perlahan Menggeser Homo Sapiens
    04 JMSI Riau Buka Jalan Wartawan Naik Kelas, UKW Tiga Jenjang Digelar November
    05 Tongkat Komando Berganti, AKBP Eko Rubiyanto Resmi Pimpin Polres Bengkalis
    06 Rekrutmen 4 Tenaga Kerja di Pertamina Pakning Disorot, Dugaan Titipan dan Hubungan Keluarga Mencuat
    07 Kabur ke Jambi Usai Diduga Cabuli Putri Kandung, Ayah 41 Tahun Ditangkap Polisi
    08 Rekrutmen Pertamina Sungai Pakning Disorot, Empat Poin Kesepakatan Jadi Pegangan
    09 Rekrutmen Dipersoalkan, Ini Kata Manager Pertamina Kilang Sungai Pakning
    10 Rekrutmen 4 Tenaga Kerja Pertamina Dipersoalkan, DPRD Bengkalis: Jangan Singkirkan Anak Tempatan
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © 2019 - Riauline.com